29.3.11

Sepercik Kembang Api Di Siang Hari

Ini tentang aku, bukan ini tentang kamu, tidak ini tentang kita semua.

Dahulu kala, ketika kita dilahirkan tak ada rasa apapun yang menyertai kita, tidak satupun rasa kecuali rasa kasih sayang terhadap kedua orang tua kita. Karena setiap kita membuka mata, wajah merekalah yang selalu tersenyum menyambutnya. Kita dianggap hanya bisa menangis, tak bisa berbuat apa-apa, dan itu memang benar. Tak ada masalah tak ada peraturan yang mengekang. Ah, mungkin ini adalah masa terindah dalam hidup kita, hanya ditimang dan dicurahi kasih sayang.

Hingga pada suatu hari kita dapat berjalan menapak tanah. Disinilah kita dituntut untuk belajar tentang kehidupan, meskipun secara perlahan. Kita mulai belajar tentang kupu-kupu dan daur hidupnya, mulai bertanya-tanya apakah telur atau ayam yang diciptakan terlebih dahulu. Semua kita pertanyakan, seolah jawaban-jawaban yang ada tak memuaskan kita. Kita mulai biasa berkata tidak, dengan ucapan dan bukan sekedar tangisan. Dan kita mulai berpikir . . .

Ketika waktunya tiba, setiap pagi kita akan disibukkan dengan proses belajar yang biasa kita sebut dengan sekolah. Belajar berhitung, belajar membaca dan belajar apapun tentang dunia ini. Sedikit demi sedikit kita mulai mengerti . . .

Suatu waktu, kita akan memasuki dunia remaja, usia terus bertambah, pergaulan semakin berkembang dan semakin banyak informasi yang kita serap. Bahkan ada kalanya dada kita akan merasa hangat, berdebar bahkan nyeri yang rasanya begitu tak karuan. Ada apa ini? dan kita mulai bertanya tentang rasa ini. Biasanya orang yang menyebut dirinya orang tua, mengatakan ini  " Cinta Monyet " . Dan kita hanya mengiyakan saja karena pada saat itu kita tak tau apa yang sedang terjadi. Meskipun kita sadar bahwa kita bukanlah seekor monyet, kita anak manusia yang sedang beranjak dewasa. Disini kita tak akan merasa sakit, tidak terlalu, karena lagi-lagi ini hanyalah  " Cinta Monyet ".

Dan kinilah saatnya, saat kita harus menghadapi dunia, saat kita harus dapat berdiri tanpa bantuan orang lain saat kita terjatuh, saat kita mulai menangis jika merasa terluka, saat kita disebut " Dewasa ". Dan kita mulai merasakan ada sebuah kembang api yang terbakar dihati kita, yang terlihat bercahaya walaupun ini siang hari.

Kembang api itu tiba-tiba muncul begitu saja, walaupun kita tak menginginkannya, walaupun kita tak mengharapkannya. Disinilah kedewasaan kita diperlukan untuk dapat mengendalikanya. Ketika  kembang api itu semakin terbakar dan " dia " tak bermain bersama kita, mengapa tak kita padamkan saja? Karena nantinya, pasti, kembang api itu pada akhirnya dapat melukai kita.
Namun, ketika kita dan " dia " dapat bermain bersama-sama, kisah ini baru saja dimulai . . . .

My Poem 2

ketika cinta bungkam mulutku tuk sekali lagi
hanya dapat kulihat kebencian dimatamu
ketika rindu mematungkanku dihadapmu
hanya dapat ku rasakan kemarahan digemuruh hatimu
cinta dan rindu tlah memperbudakku
jadikanku seonggok tubuh tak bernyawa yang tak pernah berdaya dhadapmu
jika dia tak bersahabat denganku, lalu menagapa aku harus mendewakan cinta?


***

aku mencintaimu betapa bodohnya aku karna mengharap suatu hal yang tak pasti dari orang sepertimu jika kau merasa menjadi pencuri hatiku beri aku jawaban karna tak mungkin ku ungkap smua yang kurasa padamu
***

cinta apa itu cinta apa benar akutlah jatuh cinta pada ombak yg tak mungkin ku cinta karna jika deburnya datang kan dia kikis hati rapuh yang tlah mencintainya

***

Otakku penuh,
Terpenuhi fikiran-fikiran tentang dirimu
Tentang marahmu yang buatku semakin tak menentu
Tentang dendammu yang berkobar tak termaafkan oleh ucap maafku
Hatiku sesak,
Dijejali beribu rangkaian kata yang tak mampu kuucap
Tentang semua yang kurasakan untukmu
Tentang cinta dan kebosanan
Tentang harapan dan keputusasaan
Yang tak pernah lelah kujejalkan, diantara sela air mata dan senyuman

***

ketika kebencian menghampirimu ,aku tak berani tuk sedetik saja menyapamu
ketika dendam membujukmu,aku tak berani tuk sedetik saja ucapkan kata rindu untukmu
mungkin benar kuharapkan senyummu,mungkin benar kurindukan candamu
namun aku bukanlah narapidana dibalik terali besi dan kau bukanlah sipir bersenjata bedhil
tak pantas kau menghukumku dengan rasa bersalah seperti ini
jadi jangan pernah salahkan aku ,jika rasa benci dan dendam mengetuk pintu hatiku,mengusir rasa cinta dan rinduku untukmu

***

untuk cintaku yang tertinggal diperbatasan tanpa ujung,
malam ini begitu sunyi,suara jangkrik tak terdengar bersahutan,tak ada yang meramaikan hatiku yang sunyi sepi ketika teringat akan indah hadirmu
sebuah kesalahan bodoh tlah buatku terperosok dalam penyesalan yang tak berujung,yang semakin jauhkan hadirmu dari lembar hidupku
andai waktu dapat kuputar dan kuhentikan,akan kukembalikan dia kemasa itu,detik pertama bulan keempat,saat semua orang seharusnya bersuka cita
andai aku tak terbutakan oleh tradisi bodoh bocah remaja,mungkin saat ini ku tak dapat benci darimu
andai kau ijinkan aku tuk ucap sebait kata,hanya ini yang dapat kusampaikan
AKU MENYESAL DAN MAAFKAN AKU
jadi kumohon,berbaliklah, dan tersenyumlah untukku sekali lagi
***
cinta itu tak pernah berat sebelah, jika kamu yang hanya melimpahinya dengan rasa cinta tapi dia tidak, itu bukan cinta
cinta itu seperti kembang api, meledak-ledak tak pasti, jangan pernah bermain sendiri, karena jika terbakar tak akan ada yang menyembuhkanmu

7174 (cerpen)

 Suara dentingan itu semakin keras membangunkanku. Dengan ragu, kubuka mataku walau terasa berat.. Lingkungan ini terasa asing bagiku, semua orang nampak sibuk dengan benda-benda aneh meyerupai robot. Mereka mengenakan pakaian yang sama, persis seperti yang dikenakan empat pahlawan super dalam film fantastic four, film favoritku, yang membedakan hanyalah sebuah gelang yang mereka kenakan di tangan kiri, yang sepertinya terbuat dari baja.
Tepukan lembut dipundakku membuyarkan semua lamunanku
“ 7174, apakah anda baik-baik saja ?” makhluk yang berdiri dihadapanku saat ini benar-benar membuatku terpana
“ Dimas . . . .  ? “ tak percaya., Dimas, pacarku, berada dihadapanku dengan pakaian alien itu.
“ Dimas ? “ tanyanya heran
“ Kamu . . . kamu Dimas kan? ini aku, Sasi “ tanyaku semakin tak percaya
“ Apa yang anda katakan? apakah hukuman dari tuan Dimas benar-benar membuat anda sakit ? “ aku hanya dapat mengerutkan keningku, benar-benar bingung dengan apa yang sedang terjadi.
“ 7174 apakah anda benar-benar lupa dengan saya ? “ aku menggelengkan kepalaku lemah.
“ Saya 5080 . . . “
“ 5080 . . .  ini di mana, tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi! “
“ Anda benar-benar lupa . . . . ? “ Aku mengangguk pelan.
Akhirnya Dimas atau 5080 atau siapalah dia, menjawab semua pertanyaan yang berkecamuk dibenakku yang benar-benar membuatku bingung.
Ini tahun 3000 dan disini semua manusia bekerja kepada robot. Diawali dari kesalahan Prof. Flass, dia menciptakan robot yang ditanami chip yang menyerupai otak manusia, bahkan kepintarannya melebihi otak manusia. Robot itulah yang membunuh Prof. Flass hingga akhirnya menciptakan robot-robot lain yang digunakan sebagai pasukannya untuk menguasai dunia. Generasi pertama itulah yang biasa disebut sebagai tuan Dimas, pemimpin dari sekumpulan robot yang saat ini menguasai dunia. Dan sejak saat itu, manusia menjadi budak mereka. Setiap manusia harus melayani satu robot sepanjang hidup mereka. Mereka tidak dapat menikah ataupun jatuh cinta, karena para robot itu telah “ mencuci “ hati mereka. Untuk memperoleh keturunan, setiap perempuan dari golongan manusia disuntik dengan serum yang dapat membuat mereka hamil. Di dunia ini para manusia tidak boleh menyandang sebuah nama, identitas mereka hanyalah gelang yang bertuliskan sederetan angka, yang biasa digunakan untuk menyapa satu sama lain Dan aku baru menyadari ternyata aku adalah sebagian dari mereka. Aku mengenakan gelang bertuliskan “ 7174 “ yang berarti itulah namaku. Aku meraba gelang itu,terasa kasar dan dingin. 5080 melanjutkan ceritanya, aku dijatuhi hukuman karena melakukan kesalahan yang sangat fatal, aku telah membunuh Diana, robot wanita kekasih Dimas, Sang pemimpin.
“ Lalu, mengapa aku masih hidup ? “
“ Apa anda lupa, anda cucu dari Prof . Flass, dan tuan Dimas masih mempertimbangkan hal itu, sehingga hukuman anda tidak terlalu berat “
“ Cucu Prof.. Flass ? Sejak kapan aku menjadi cucu seorang ilmuwan gila ? “ gumamku lirih, masih dengan rasa tak percaya
“ Lalu apa tugasku di sini ? “ tanyaku penasaran
“ Anda bekerja di pusat pengendalian kota “
“ Wow . . . pengendalian kota ? “ tanyaku tak percaya
“ Lalu apa tugasmu ? “
“ Saya bekerja untuk tuan Dimas, dan saya sangat bangga akan hal itu, karena hanya orang-orang terpilihlah yang bisa bekerja pada tuan Dimas “
Kepalaku berdenyut tak karuan, bingung membayangkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku benar-benar lupa dengan segalanya. Yang aku ingat hanyalah pertengkaranku dengan Dimas, kekasihku, menangis, berlari dan semuanya menjadi gelap. Apa ini semua nyata, ataukah hanya sekedar mimpi ?

*****
Seminggu sudah aku menjalani hari dengan penuh kebingungan. Semua nampak dingin dan asing, hanya sosok yang menyerupai Dimaslah yang membuatku merasa tenang. Tak kurasakan kehidupan disekitarku, semua hanyalah rongsokan teknologi yang dibanggakan oleh manusia “ di zamanku “ dan tanpa mereka sadari bahwa suatu saat teknologi-teknologi ini akan memperbudak mereka , tepatnya seperti apa yang kurasakan saat ini.
Aku berkeliling di sekitar gedung pusat pengendalian kota, di sepanjang jalan kusaksikan fenomena yang membuat hatiku miris, manusia bekerja seperti layaknya sebuah robot dan para robot memerintah layaknya seorang manusia.
“ 7 1 7 4, a . . pa  yang  ka. . mu  la . .ku . . kan  di . . si . .ni . . ? “  sebuah robot menghentikan langkahku.
“ Kem . . ba . . li  ke . . ru . . ang . . mu  se . . ka . . rang  ju . . ga . . “  tanpa meminta persetujuanku, robot itu menyeret tubuhku menuju sebuah ruangan yang penuh dengan monitor dan tombol-tombol pengendali.
“ Se . . ka . . rang  ce . . pat  be . . ker . .ja  la . . gi ! “ robot itu menutup pintu ruanganku dengan sensor otomatis ditubuhnya
“ Andai semua manusia tau apa aku alami saat ini, pasti mereka merasa menyesal telah mendewakan teknologi “ gerutuku kesal
Terdengar pintu ruanganku terbuka secara otomatis
“ Apa lagi sich maunya ni robot ? “ saat aku membalikkan tubuhku, kudapati 5080 berdiri di depan pintu, nafasnya tersengal-sengal, peluh bercucuran dari sekujur tubuhnya, dan wajahnya nampak pucat pasi ketakutan.
“ Tolong saya 7174, tolong saya . . . “ sebelum 5080 sempat bercerita, pintu ruanganku kembali terbuka, dua buah robot memasuki ruanganku dan menyeret 5080 dengan paksa.
“ Lepaskan saya, saya mohon lepaskan saya . . . “ 5080 memohon kepada kedua robot itu, namun tak ada tanggapan sedikitpun.
“ Hey . . . Apa yang kalian lakukan, lepaskan dia ! “ aku mulai kesal dengan perlakuan robot-robot itu terhadap semua manusia, memperlakukan manusia seolah-olah mereka adalah hewan.
“ Ka . . mi  tak  da . . pat  me . . le . . pas . . kan  5 0 8 0, dia  te . . lah  mem . . bu . . nuh . .   tu . . an  Di . . mas “
“ Membunuh tuan Dimas, jadi rongsokan itu telah mati ? “ batinku dalam hati
“ Bukan saya yang membunuh tuan Dimas, saya berani bersumpah “
“ Tu . . tup  mu . . lut . . mu  ka . . li . .an  ha . . nya  ma . . nu . . sia  hi . . na  yang  ti . . dak  ber . . hak  un . . tuk  mem . . be . . la  di . . ri “
“ Kalianlah yang seharusnya menutup mulut, dasar rongsokan  . . . “ teriakku geram dan tetap berlari mengejar mereka
Tanpa mendengarkan penjelasan dari 5080 robot-robot itu menyeretnya menuju ruangan eksekusi, di situlah setiap manusia yang danggap bersalah dijatuhi hukuman mati.
“ Hentikan . . . !!! “ aku berteriak histeris ketika robot-robot itu berhasil mendudukkan 5080 di atas kursi pesakitan, tak ada yang bisa kulakukan, dua robot menghadangku. Akhirnya semua benar-benar terjadi, sesuatu yang tak pernah kubayangkan sampai detik ini. Sebuah robot, mengetikkan beberapa password dikomputer pengendali, hingga sebuah senjata lasser besar mengarah ke 5080 yang telah duduk terikat tak berdaya.
“ Ma . . ti  kau . . “  sinar berwarna merah mengarah ke arah 5080, beberapa detik kemudian sosok 5080 berubah menjadi abu.
“ Dimas . . . . !!!! “ aku berteriak histeris melihat 5080 berubah menjadi abu.
Kedua robot yang tadi menghalangiku menyeretku kembali keruanganku, perlawananku tak ada artinya jika dibandingkan dengan kekuatan mereka.
“ Ka . . mu  te . . lah  me . .li . . hat  a . .ki . . bat . . nya ji . . ka  me . . la . .wan  ka . . mi . . “
“ Kalian hanya robot, dan aku yakin ada sebuah cara untuk mengalahkan kalian “ teriakku kesal, namun robot-robot itu tak menghiraukannya.
“ Aku akan menghancurkan kalian semua !!!!! “

*****
 “ Maaf, di mana saya bisa menemui wanita yang telah melahirkan 5080 ? “ tanyaku pada setiap manusia yang kutemui, namun tak ada yang dapat memberitahukan padaku keberadaan wanita itu.
Sudah lebih dari satu jam aku berkeliling kota robot, namun aku tak menemukan wanita yang telah melahirkan 5080. Perlu diketahui, di kota ini tak dikenal istilah orang tua, ibu apalagi ayah, karena di sini semuanya terlahir melalui sebuah teknologi, dan mereka menyebut ibu sebagai wanita yang melahirkan . . . ( tergantung dari nama anak yang telah dilahirkan )

“ 7174, apa anda sedang mencari wanita yang telah melahirkan 5080 ? “ seorang manusia menghampiriku, 5110, angka yang kulihat dari gelang yang ia kenakan
“ Apa kamu tau dimana ia berada ? “ tanyaku senang dan tak sabar, setelah sekian lama mencari akhirnya aku menemukan sebuah petunjuk
“ 2030 berada di penjara bawah tanah, di bawah gedung pusat pengendalian kota “
“ 2030 ? “
“ Wanita yang telah melahirkan 5080 . . . “ jawab 5110, seolah mengerti akan kebingunganku
“ Mengapa dia ada di penjara, apakah ini ada hubungannya dengan kesalahan yang dilakukan 5080 ? “
“ Tidak bukan karena 5080 . . . “
5110 kembali bercerita, di kota ini setiap manusia memiliki batas hidup. Minggu depan 2030 tepat berusia 50 tahun dan itu artinya sudah saatnya dia mati. Setiap manusia yang berumur 50 tahun sudah dianggap tak berguna, dan mereka akan dieksekusi, sama seperti yang dialami 5080, mereka akan diubah menjadi abu dan dibuang begitu saja di tempat pembuangan. Benar-benar biadab dan tak terampuni.

*****
Ruang penjara itu benar-benar pengap dan gelap, tak sedikitpun menggambarkan perkembangan teknologi yang begitu pesat seperti yang kutemui di atas sana. Dengan mudah aku dapat menemukan penjara itu, sebuah ruangan besar yang dengan terali baja.
“ 2030 . . . “ bisikku pelan memanggil, penjara itu mengurung berpuluh-puluh manusia yang siap mati, seorang wanita seumuran bunda datang menghampiriku
“ Saya 2030, tapi masih seminggu lagi saya berusia 50 tahun “ kata-katanya datar, tak sedikitpun terbersit ketakutan dalam matanya, seolah “ pembunuhan “ ini adalah suatu hal yang wajar.
“ Tidak . . . bukan itu maksud saya, saya hanya ingin menanyakan satu hal . . . “
“ Apa yang bisa saya bantu ? “
Akhirnya dengan keberanian yang masih tersisa, kucoba mengutarakan maksud kedatanganku, mencari tahu kelemahan dari “ rongsokan-rongsokan “ itu.
“ Di ruangan tuan Dimas ada sebuah saklar yang secara otomatis dapat mematikan semua teknologi di kota ini, termasuk robot-robot itu. Tapi di sana penjagaan begitu ketat, tak ada celah yang dapat dilalui manusia “ tak ada sedikitpun kebohongan dalam kata-kata wanita itu
“ Terimakasih atas informasinya . . . “ aku segera berlari meninggalkan penjara itu, tanpa sedikitpun memberi penjelasan kepada wanita itu, karna kurasa itu memang tak perlu.

*****
Dadaku berdebar-debar, nafasku tak teratur, aku benar-benar tak sabar melakukan misi ini. Ruanganku seolah juga ikut menyemangatiku, ide itu sudah ada sejak aku berlari tadi dan aku harus segera melakukannya.
Aku mulai bergerak, dengan cekatan kuketikkan beberapa password untuk menyusup ke dalam system komputer kota robot, membuat manipulasi tentang adanya penyusup di tengah kota dan bagiku hal ini tidak terlalu sulit. Kudengar suara berat langkah rongsokan-rongsokan itu melangkah tergesa meninggalkan gedung penggendali kota. Setelah merasa aman, aku segera berlari menuju ruangan tuan Dimas yang berada di ujung lorong. Ruangan itu begitu besar, dengan berbagai monitor dan peralatan canggih di dalamnya.
“ Di mana saklar itu ? “ tanyaku tak sabar, mengelilingi ruangan dengan penuh rasa cemas dan tanpa kusadari apa yang kucari berada di tengah ruangan.
Saklar itu tertutup kotak kaca yang begitu tebal,
“ Ma . . su . . kan  pass . . word . . “  secara otomatis system komputer dalam ruangan itu memerintahkan untuk memasukkan password ketika aku menyentuh kaca pembatas saklar itu.
“ Sial . . .  !!!! “ umpatku kesal, aku mulai mencoba mengetik beberapa huruf “ D I A N A “ enter dan “ Pass . . word  ti . . dak  di . . te . . ri . . ma,  a . . da  pe . . nyu . . sup a . .da  pe . . nyu . . sup “
Terdengar bunyi alarm menggema diseluruh penjuru gedung pengendali kota.
“ Arghhhhh . . . Rongsokan “ aku kembali mencoba mengetik sebuah kata “ F L A S S “
“ Pass . . word  di . . te . . ri . . ma  secara otomatis kaca pembatas itu terbuka, bersamaan dengan terbukanya kaca pembatas robot-robot itu mulai memasuki ruangan tuan Dimas.
“ Pe . . nyu . . sup  te . . lah  di . . te . .mu . .kan, han . .cur . .kan  se . .ka . .rang  ju . .ga 7 1 7 4  ber . .siap . .lah  un . .tuk  ma . .ti “
“ Bye . . . “ segera kutarik saklar itu sebelum rongsokan-ronsokan itu merubahku menjadi abu
“ Sys . .tem  te . .lah   di . .ma . .ti . .kan “ bersamaan dengan itu aku merasakan keanehan dalam tubuhku, aku merasa lebih ringan dan secara perlahan tubuhku mulai menghilang
“ Apa aku sudah mati? apa robot-robot itu sempat menembakku dengan lasser seperti apa yang mereka lakukan terhadap 5080 ? “ banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam dadaku, namun sebelum semuanya dapat terjawab, aku mendengar sebuah suara yang sangat kukenal memanggil namaku
“ Sasi . . . bangun sayang . . . “ bunda, itu suara bunda
Meskipun berat kucoba membuka kedua mataku, kulihat Bunda bernafas lega dihadapanku. Kucoba memutar pandangan keseluruh ruangan, rumah sakit, di sinilah aku berada saat ini. Kutemui wajah yang sangat kukenal tertunduk penuh penyesalan di sudut ruangan, Dimas atau 5080, entah siapa dia karena mereka begitu mirip. Ternyata itu semua hanya mimpi dan aku bersyukur karena itu. Kuangkat tangan kiriku walau masih terasa lemas, mencoba meraba wajah bunda yang sangat kurindukan.
Apa itu, sepertinya aku mengenal benda itu, sebuah gelang bertuliskan angka “ 7174 “ melingkar manis dilengan tangan kiriku. Nafasku terasa sesak dan . . . .
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTT . . . .
Semuanya kembali gelap.

*****
Tidak salah jika kita ingin memanfaatkan suatu teknologi, namun itu bukan berarti kita mendewakan teknologi dan menjadikannya segala-galanya dalam kehidupan kita.
Karena cepat atau lambat teknologi dapat memperbudak kita, membuat kita kecanduan dan pada akhirnya merusak kehidupan kita secara perlahan.

Who is ( HIM ) ? ( cerpen )


“ Mas, anterin aku ke dokter donk? “ Rado yang sedang asik bermain game tak menggubris kehadiran Lintang.
“ Mas Rado. . . “
“ Manja banget sich loe?Punya kaki kan, bisa berangkat sendiri! “ ujar Rado marah, sepertinya ia tak bisa untuk tak marah jika bertemu dengan Lintang. Amarahnya selalu saja naik jika berurusan dengan sepupunya ini.
“ Tapi mas, Lintang kan lagi sakit “ wajah pucat Lintang tak sedikitpun menimbulkan rasa kasihan di hati Rado.
“ Ooo, terus klo sakit bisa manja-manja gitu? Banyak taxi yang siap nganterin loe kemana aja loe mau!!dan sorry, gue bukan supir loe!!! ” Rado membentak tepat didepan muka Lintang
“ Rado!! “Tante Lani berteriak kesal, sepertinya ia mendengar keributan yang sedang terjadi antara Rado dan Lintang.
“ Apa susahnya sih nganterin Lintang ke dokter? “ tante Lani muncul dari ruang tengah.
“Susah Ma, apalagi gara-gara dia Rado putus sama Sisil “
“ Rado, kamu nggak boleh bilang gitu, Lintang saudara kamu dan Sisil mutusin kamu juga bukan gara-gara Lintang. Lagipula itu alasan yang nggak masuk akal, jangan kayak anak kecil kamu “ kepala Lintang semakin berdenyut.
“ Udah tante, Lintang bisa berangkat sendiri kok, Mas Rado bener banyak taxi yang bisa nganter Lintang “
“ Tuh dia aja mau berangkat sendiri “
“ Enggak sayang, kamu berangkat sama Rado “ujar tante Lani lembut.
“ Rado sibuk Ma . . . “ Rado berkata malas.
“ Sibuk? Maen game itu kamu bilang sibuk? pokoknya sekarang kamu anterin Lintang ke dokter “ Tante Lani memotong kalimat Rado tegas.
“ Tapi Ma . . . “
“ Nggak ada tapi-tapian!! “ emosi tante Lani memuncak.
“ Mama slalu aja bela dia, terus aja Ma, bela anak nggak tau diri itu!! “ Rado masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya marah, sedang Tante Lani hanya menghela nafas, lelah.
“ Maafin Rado ya sayang, Tante anter naek taxi ya? “
“Nggak usah Tante, Lintang bisa berangkat sendiri kok “
“Bener kamu nggak papa berangkat sendiri ? “ Tante Lani bertanya cemas dan Lintang hanya menggangguk.
“ Oia tante, nanti Lintang langsung balik kos aja. Maafin Lintang ya Tante, gara-gara Lintang Tante jadi berantem sama Mas Rado . . . “ Lintang memeluk Tante Lani lembut, tersenyum tipis.
Selalu saja begitu. Rado masih saja membenci Lintang karena kesalahan yang sebenarnya tak pernah dibuatnya. Rado berfikiran bahwa Lintang lah penyebab Sisil memutuskannya, padahal kenyataannya Lintang hanyalah kambing hitam Sisil, yang pada saat itu sudah mempunyai kekasih baru.
Andai saja saat ini Lintang tak benar-benar merasa sakit ia pasti tak meminta bantuan kepada Rado, karena sudah dapat ditebak bagaimana reaksi sepupunya ini.

***
“ Mbak, dokternya tutup “ ujar supir taxi yang ditumpangi Lintang, membuyarkan lamunannya. Ia menunjuk kearah plang besar bertuliskan “ TUTUP “
“ Trus kemana lagi ya pak? “Lintang bertanya, lebih kepada dirinya sendiri.
“ Wah, saya juga nggak tau mbak “ tiba-tiba saja Handphone Lintang berbunyi.
“ Hallo, napa Mut? “
Loe dimana sekarang? Jadi ke dokter?
“Ni di dokter, tapi dokter langganan gue tutup. Nggak tau dech mesti periksa kemana lagi “
Ya udah dech ntar gue SMSin dokter langganan keluarga gue
“ Ok, thanks ya, gue tunggu SMS loe “ Lintang mematikan Handphone-nya
“ Jalan pak “ dan Lintang kembali mengarungi jalanan yang malam itu mulai padat merayap.

***

Satu jam kemudian, Lintang telah sampai di alamat yang diberikan Muty. Cukup jauh dari kota, dan dapat dibilang perumahan yang terpencil. Lintang melihat sekeliling, sepi dan entah mengapa bulu kuduk Lintang mulai berdiri.
“ Nggak salah nih? “ Lintang nampak ragu, karena tempat praktek dokter yang dimaksud  Muty terlihat sepi, lebih tepatnya terlihat menakutkan. Lintang mencoba menghubungi sahabatnya. Suara Jason Mraz masih terdengar merdu meskipun saat ini kepala Lintang berdenyut-denyut tak karuan. Tak lama kemudian, terdengar suara Muty dari seberang telepon.
Hallo, napa Tang?
“ Hallo say, nggak salah loe? Sepi banget, udah kayak rumah hantu aja “
Ya ampun Lintang, ini tu hari Minggu, yang artinya sebenarnya tu dokter tutup hari ini, tapi berhubung bokap kenal baek ma dia, trus waktu bokap minta tolong dia bilang oke. Lagian itu juga rumahnya, bukan tempat prakteknya
“Trus gimana gue masuknya? “
Kan ada belnya sayang, loe bisa pencet tu bel “ suara Muty terdengar gemas.
“ Hehehe, ya maaf say “
Oia, ntar kalo loe ditanya bilang aja loe sepupu gue
“ Beres boss “ Lintang mematikan Handphone-nya
“ Pak bisa ditunggu sebentar kan? “
“ Baik mbak “  Lintang mencoba memberanikan dirinya. Rumput yang sudah tinggi tak terawat menambah kesan angker rumah tua itu. Dengan ragu, ia bunyikan bel yang ada didekat pintu masuk. Sudah berkali-kali ia membunyikan bel tersebut, namun tak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu untukknya.
Saat Lintang akan beranjak pergi, terdengar suara kunci dibuka. Sosok itu berusia sekitar empat puluh tahunan, pendek berkulit putih, memakai kacamata dan misterius. Ia tak terlihat seperti dokter, tidak tanpa jas putih dan stetoskopnya. Sosok itu hanya mematung memandangi Lintang.
“ Maaf, dokter Ramdhan? “ Lintang bertanya ragu, tapi sosok itu tetap mematung.
“ Maaf, dokter Ramdhan? “ Lintang kembali mengulang pertanyaannya, kali ini dengan suara yang lebih keras.
“ Oo ia maaf, silahkan masuk “ dokter Ramdhan nampak gugup.
“ Kamu pasti keponakannya Pak Ibrahim ya? “ Lintang hanya mengangguk. Dokter Ramdhan mengajak Lintang menuju kesebuah ruangan dan bisa ditebak bahwa itu bukan tempat prakteknya, selain karena tak ada ranjang, disana juga tak ada lemari obat seperti yang ada di tempat praktek dokter kebanyakan.
“ Silahkan duduk? “ dokter Ramdhan mempersilahkan Lintang untuk duduk, sedangkan ia nampak sibuk mencari sesuatu.
“ Nah ini dia? “ dokter Ramdhan tersenyum menunjukkan sebuah buku yang berhasil ia temukan.
“ Oke, kita mulai, nama? “
“ Lintang Sartika “
“ Umur? “
“ 20 tahun “
“ Kuliah? “
“ Ia “ Lintang mulai bingung.
“ Dimana? “
“ Universitas Pelita Harapan “
“ Alamat? “ Lintang mengerutkan keningnya, meskipun bingung dan merasa ganjil Lintang tetap menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh dokter Ramdhan. “ Ini mau periksa apa wawancara pekerjaan, detail banget? keburu koit dok “ Lintang membatin dalam hati.
“ Silahkan “ dokter Ramdhan mulai memeriksa keadaan Lintang.
“ Saya sakit apa dok? “ tanya Lintang setelah dokter Ramdhan selesai memeriksa dirinya.
“ Nggak papa kok, cuma kecapean “ dokter Ramdhan menulis sebuah resep.
“ Maaf ya, kamu bisa lihat sendiri kalau ini bukan tempat praktek saya jadi tak ada obat untuk kamu disini, ini“ dokter Ramdhan menyerahkan resep yang telah ditulisnya,  tersenyum ramah.
“Terimakasih dok “
“ Sama-sama”

***

“ Gimana say,dokter Ramdhan cucok kan? “
“ Loe gila? “ Lintang bertanya tak percaya.
“ Ya enggak lah, kalo dia belum punya istri mau dech gue jadi istrinya “
“ Sinting, kaiaknya penyakit loe yang demen ma orang tua tu semakin parah dech “
“ hahaha, sialan loe, abisnya dari hari kehari sepupu loe makin parah aja penyakit gilanya, ya jangan salahin gue dunk klo naksir dokter cakep itu “
“ Mas Rado maksud loe? Udah dech klo ma dia nggak usah ngarep, sinting tu orang “ “ Eh jangan gitu, meskipun sinting dia tetep my lovely “ ujar Muty dengan nada ganjen andalannya.
“ Ih jijik ah loe “ Lintang memukul lengan Muty.
“ Aww, sakit tau “ Muty berteriak, cukup keras untuk membuat Pak Bambang mengalihkan perhatian ke arah mereka berdua.
“ Muty Lintang, kalian pilih diam atau keluar dari kelas saya dan melanjutkan acara gosip siang kalian di luar kelas?! “ Pak Bambang membentak marah kepada kedua sahabat ini.
 “ Maaf pak . . . “ Lintang dan Muty berkata gugup.
“ Kalian memilih dikelas atau keluar? “
“ Di kelas pak “
“ Kalau begitu diam, sekali lagi kalian berbicara sendiri, jangan salahkan saya kalau kalian dapat nilai D “
“ Baik pak . . . “
“ Ini kelas saya dan saya berhak mengusir siapapun yang tidak patuh terhadap aturan saya, paham kalian semua?! “
“ Paham pak . . . “ jawab semua mahasiswa serentak, seperti sedang berada pada gerombolan paduan suara.
“ Tuh akibat ulah loe “ bisik Lintang kesal.
“ Nggak papa lah, sekali-kali “ ujar Muty enteng.
“ By the way, kok gue ngerasa aneh ya ma dokter loe itu “
“ Aneh gimana? “ Lintang mengangkat bahunya, tak tau.

***

Hari ini mungkin bisa dikatakan hari yang cukup melelahkan bagi Lintang, dari jam tujuh pagi sampai tujuh malam ia harus berusaha mati-matian mendengarkan materi yang disampaikan dengan kepala berdenyut dan kondisi tubuh yang tak seberapa baik. Menolak ajakan Muty dan kakaknya untuk menonton film terbaru di bioskop dan memilih untuk berendam di air hangat dan tidur, adalah pilihannya saat ini. Saat tiba di kos-kosannya, Lintang menemukan sebuah kotak kecil berwarna pink tepat didepan pintu kamarnya. Antara ragu dan penasaran, Lintang memutuskan untuk mengambil kotak tersebut. Dan membaca sebuah kertas yang terselip diatasnya.

 Untuk Lintang yang telah menyinari malamku yang gelap

Lintangpun tersenyum, “ Pasti ini ulah Muty “ gerutunya gemas. Lintang masuk ke dalam kamarnya, kamar itu begitu pengap karena seharian tak tersentuh udara dari luar. Lintang membuka jendela, menyalakan kipas angin dan lampu kamarnya, berusaha sedikit mengurangi udara pengap yang membuatnya sesak. Lintang meletakkan kotak yang ditemukannya diatas meja belajar dan memutuskan untuk terlebih dahulu mandi sebelum membuka kejutan yang dikirimkan sahabatnya.
“ Apa sich isinya? Bikin penasaran aja tu anak “ ujar Lintang setelah selesai membersihkan tubuhnya dan melihat kotak pink itu bertengger manis diatas meja belajarnya.
“ Tapi napa baunya anyir ya? “ ujar Lintang ketika mencium bau anyir dari dalam kotak. Lintang melepaskan ikatan-ikatan dari pita pink yang terikat rapi melindungi kotak tersebut. Saat kotak tersebut dibuka, bau anyir darah semakin menusuk hidung.
“ Apa sich ini ? Nggak lucu banget becandaannya Muty dari hari kehari “ dengan jijik, Lintang membuka kertas yang ada didalam kotak tersebut.
“ Arghhhhh . . . “ Lintang menjerit takut dan melemparkan kertas tersebut setelah mengetahui apa isinya. Sebaris tulisan yang ditulis dengan darah menghiasi kertas tersebut.

Lintang, jadilah permaisuriku. Aku akan selalu menyayangi dan melindungimu
Sayang, aku selalu mengawasimu.

Dengan kesal, Lintang berusaha menghubungi Muty.
“ Hallo, loe dimana? “ nada bicara Lintang cukup menggambarkan kekesalannya hari ini.
Di bioskop, kan tadi udah bilang
“ Jangan boong, loe dimana sekarang? “ ujar Lintang semakin ketus.
Di bioskop Lintang sayang, ini udah beli tiketnya ma abang gue
“ Becandaan loe nggak lucu tau nggak? “ Lintang berteriak marah.
Becandaan apa? “ suara Muty terdengar bingung.
“ Loe kan yang ngirim kotak ini ? “
Kotak? Kotak apa? “ Muty semakin bingung, tak mengerti arah pembicaraan Lintang.
“ Udah dech Muty, nggak usah becanda, loe kan yang ngirim kotak ini “ Lintang mulai terisak.
Lintang sayang, gue bener-bener nggak ngerti apa yang loe bicarain sekarang, sebenernya ada apa sich? “
“ Jadi bukan loe yang ngirim kotak ini? “
Bukan dan gue bener-bener nggak tau apa yang loe maksud
“ Oke, kalo gitu loe sekarang juga ke kosan gue “
Gue kan mau . . .”
“ SEKARANG!!! “ Lintang membentak kesal, memotong kalimat Muty.
Oke oke, gue kesana sekarang
Lintang membenamkan kepalanya diantara kedua kakinya, dan ia mulai menangis ketakutan. Peristiwa hari ini mengingatkannya pada peristiwa satu tahun yang lalu, ketika Tyo, kekasihnya, tewas dalam keadaan yang sangat tragis. Dan sampai saat ini ia masih menyimpan rahasia itu, rapi.

“ Lintang yang sabar ya say “ hari ini tak seperti biasanya, pagi-pagi benar Muty sudah berada di kamar kos Lintang, dan memintanya untuk bersabar, ada apa ini?
“ Emangnya ada apa sich? hoy ini masih pagi, jangan nglindur loe, pulang gih, gue masih ngantuk “
“ Tyo, dia nitip ini buat loe “ Muty memberikan kotak kecil berwarna pink yang diikat rapi dengan sebuah pita berwarna pink, Lintang nampak ragu menerimanya.
“ loe yang sabar ya, gue pulang dulu, gue rasa loe pasti pengen sendiri “ meski masih merasa bingung, Lintang mengangguk saja.
Lintang membaca secarik kertas yang diselipkan diatas kotak kecil itu.

Untuk Lintangku, Matahariku, Rembulanku

Lintang tersenyum, iapun mumbuka kotak itu perlahan dan saat kotak itu terbuka, bau anyir yang menusuk hidung menyeruak dari dalam kotak tersebut. Lintang menemukan secarik kertas yang bertintakan darah.

Lintangku, Aku telah membantu Tyomu untuk lebih cepat bertemu dengan Tuhan.
Karena aku tak ingin dan tak bisa melihatmu dengan orang lain, kecuali aku.
Sayang aku berjanji, suatu saat kita akan bersama-sama bertemu dengan Tuhan.

Tak lama kemudian Handphone Lintang berdering menandakan satu pesan masuk.

+6281345342***
Kamu nggak perlu takut sayang
Kamu juga nggak perlu cerita ke siapapun atau ke polisi
Atau kamu ingin satu persatu orang yang kamu sayangi lebih cepat bertemu Tuhan?

Lintang masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, Lintang mencoba menghubungi nomor yang mengiriminya pesan, tapi selalu saja mailbox. Handphone-nya kembali berdering.
Mbak Mira
Calling . . .

“ Hallo “
“ Lintang “
“ Ada apa mbak? “ bukannya menjawab pertanyaan Lintang, mbak Mira, kakak Tyo,  malah menangis sesenggukan.
“ Mbak ada apa? “ perasaan Lintang tiba-tiba saja menjadi tak enak.
“ Tyo . . . “
“ Ada apa sama Tyo mbak? “
“ Tyo bunuh diri “
“  Mbak Mira jangan bercanda dech, ini april mop kan? “ Lintang melihat kalender, tepat tanggal 1 April.
“ Nggak sayang, mbak nggak bercanda “ dan pandangan Lintang menjadi gelap.

Tok . . . Tok . . . Tok . . . ketukan di pintu kamarnya membuyarkan lamunan Lintang.
“ Lintang, ini gue Muty “ dengan tergesa Lintang membukakan pintu dan memeluk Muty.
“ Ada apa sich say? “ Lintang menunjuk ketakutan kearah kotak pink yang tergeletak di lantai, dan Muty memungutnya. Muty mengerutkan keningnya ketika mengetahui isi kotak tersebut.
“ Beneren bukan loe yang kirim? ” Muty menggeleng.
“ Gue takut Mut “ Lintang terduduk lemas di ranjangnya, dan ia mulai kembali menangis.
“ Gimana kalo loe malam ini nginep dirumah gue aja? “ Muty menyarankan, takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya. Dan Lintang tak memiliki pilihan lain, karena ia memang sedang tak ingin sendirian malam ini.
“ Bang, Lintang malam ini nginep dirumah “ ujar Muty ketika mereka sampai di mobil kakak Muty yang terparkir di depan kos Lintang.
“ Kalopun gue bilang enggak, loe pasti tetep bawa Lintang kerumah kan?! “ ujar Dimas tanpa ekspresi.
“ Pastinya “ ujar Muty tersenyum. Dimas memacu mobilnya kembali kejalan raya, dan Lintang tersadar ada sebuah perban yang membalut tangan Dimas.
“ Tangannya kena apa mas? “ Dimas tak menjawab.
“ Biasa say, waktu praktek. Kan abang gue kuliah di jurusan teknik sipil, jadi tukang bangunan gitu “ Muty mencoba menjelaskan, dan keadaan kembali hening. Hanya lagu lama dari Iwan Fals yang mengalun lembut memecah keheningan.

***

“ Oke, sekarang loe tidur, nggak usah mikirin orang iseng yang ngirim kotak nggak jelas itu, loe aman disini “ Muty mencoba menenangkan, seperti seorang ibu yang ingin melindungi anaknya, Muty membetulkan letak selimut Lintang.
“ Gue matiin ya lampunya? “ Lintang mengangguk. Namun Lintang tak bisa memejamkan matanya, fikirannya masih melayang memikirkan siapa yang telah mengirimkan kotak tersebut. Dan entah mengapa ingatannya kembali ke tangan Dimas yang terluka.

***

Jam menunjukkan pukul empat pagi, namun Lintang belum juga bisa memejamkan kedua matanya. Lintang beranjak dari Ranjangnya, ia ingin mandi, berharap rasa takut itu ikut luruh bersama air yang mengguyur tubuhnya. Saat melewati kamar Dimas, pintu kamarnya sedikit terbuka. Karena penasaran, Lintang mencoba melihat ke dalam. Tapi semua nampak gelap, Lintang memutuskan mengurungkan niatnya, takut ulah lancangnya akan membuat Dimas marah.
Setelah merasa cukup segar, Lintang kembali ke kamar Muty dan saat melihat sahabatnya itu masih tertidur pulas. Lintang memilih duduk di kursi belajar Muty, satu menit kemudian ia sudah berada di alam mimpi.
“ Tang, bangun Tang, sarapan dulu yuk “ Lintang menguap lelah.
“ Loe mau kemana, rapi gitu? “
“ Kuliah lah, gue hari ini ada kuliah pengganti. Loe disini aja, gue jam sepuluh udah balik kok, sarapan dulu yuk “ Lintang mengekor Muty patuh.
“ Nyokap Bokap loe kemana? “ tanya Lintang ketika melihat meja makan hanya disiapkan untuk tiga orang.
“ Ke Semarang “
“ Abang loe? “
“ Nggak tau, pagi-pagi banget udah pergi, katanya mau survey lapangan “
“ Ow “
“ Non, ini ada bungkusan buat mbak Lintang “ Bi Inah menyerahkan kotak yang sama persis seperti yang didapat Lintang kemarin malam.
“ Makasih ya Bi “ Lintang meraih kotak itu dengan ragu, ia dan Muty saling memandang.
“ Bi, tau nggak sapa yang ngirim? “ Muty bertanya penasaran.
“ Enggak non, tadi pagi waktu Bibi mbersihin taman depan, Bibi nemuin kotak itu “
Tak jauh beda dari kemarin, secarik kertas terselip diatas kotak, dengan tulisan yang sama.

Untuk Lintangku yang saelalu bersinar

Bau anyir kembali tercium saat Lintang membuka kotak itu.

Selamat pagi permasuriku, semoga harimu indah

Muty meraih secarik kertas yang sedang dibaca Lintang.
“ Gimana hari gue bisa indah klo ada orang gila yang ngirimin gue kotak horor kaiak gini tiap hari? “
“ Siapa sich ni orang? Kaiaknya dia psikopat dech say “ Lintang menggeleng, ia benar-benar tak tau dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

***

“ Mut, gue balik ya, ni gue dijemput mas Rado, tante Lani nyuruh gue buat nginep dirumahnya malam ini “
Kyaaa, my lovely . . . “ sebelum Muty lebih histeris, Lintang mematikan Handphone-nya.  Selama perjalanan suasana begitu hening, akhirnya Lintang memberanikan diri untuk memulai percakapan.
“ Mas Rado masih marah ma Lintang? “ Rado hanya diam.
“ Maaf Mas kalo Lintang bikin salah, tapi bukan Lintang yang bikin Sisil mutusin Mas “ tak ada respon dari Rado, tapi ia memacu mobilnya semakin cepat.
“ Sisil udah punya pacar sebelum dia mutusin mas “ lanjut Lintang.
Ciiitttttt . . .
Rado menghentikkan mobilnya.
“ Loe nggak punya hak buat ngejelek-jelekin Sisil, sekarang loe turun “
“ Tapi mas . . . “
“ Gue bilang turun!!!! “ Rado membentak Lintang keras, Lintang akhirnya turun dan Rado meninggalkan Lintang sendirian ditengah jalan.
“ Taxi “ Lintang memberhentikan Taxi pertama yang ia lihat, tanpa Lintang sadari ada seseorang yang mengawasinya dari kejauhan dan nampak geram melihat perlakuan Rado terhadap Lintang.

***

Saat Lintang tiba dirumah tante Lani, keadaan begitu ramai. Banyak orang yang tidak ia kenal berkumpul di sana. Yang membuat Lintang bingung adalah raut wajah mereka yang sama, menampakkan kesedihan.
Lintang berjalan ke dalam rumah dengan perasaan bingung, ia mencari tante Lani untuk meminta penjelasan sebenarnya apa yang sedang terjadi. Lintang memasuki semua kamar dan ruangan, tapi tak menemukan keberadaan tante Lani. Hingga akhirnya ia sampai didepan kamar Rado, dengan ragu Lintang masuk ke dalam kamar yang sebelumnya ia sendiripun tak berminat untuk masuk ke dalamnya. Disana Lintang menemukan tante Lani, ia meringkuk diatas ranjang Rado sambil memeluk foto anak semata wayangnya itu. Dengan perlahan Lintang menghampiri tante Lani, sepertinya ia sudah tau apa yang sedang terjadi. Lintang duduk diatas ranjang, dan mengelus tante Lani dengan lembut.
“ Tante . . . “ tak ada jawaban dari tante Lani, matanya menerawang jauh, kosong. Tiba-tiba saja Handphone Lintang berbunyi.

No Number
Calling . . .

Lintang mengabaikannya, dalam keadaan seperti ini ia tak mau meladeni orang-orang iseng yang seringkali meneleponnya dengan alasan yang tak jelas. Tapi Handpone-nya terus saja berdering, Lintang beranjak dari duduknya dan menjauh dari tante Lani.
“ Hallo “
Lintangku “ deg, jantung Lintang seperti berhenti berdetak. Lintang keluar dari kamar, menjauh dari tante Lani.
“ Sapa ini? “ Lintang berbisik, suaranya bergetar.
Kamu nggak perlu takut sayang, nggak akan ada lagi yang nyakitin kamu . . .“
“ Loe yang sekarang nyakitin gue! Dasar psikopat!!“
Aku nggak pernah nyakitin kamu, aku selalu nglindungi kamu. Terutama dari cowok-cowok brengsek seperti Rado
“ Rado? Maksud loe apa? Jadi loe yang nyelakain Mas Rado? “ suara Lintang terdengar geram.
Aku nggak pernah nyelakain dia sayang, aku cuma bantu dia. Mempercepatnya bertemu dengan Tuhan “ Lintang langsung terduduk lemas.
“ Jadi loe yang ngebunuh Mas Rado? Apa mau loe sebenarnya? “ Lintang mulai menangis.
Aku nggak pernah ngebunuh Rado, aku cuma ngebantu dia . . .
“ Tutup mulut loe, klo loe mau gue mati, napa loe nggak bunuh gue aja? “
Sssttt, jangan nangis sayang, nggak usah takut. Aku nggak pernah maau nyakitin kamu. Lagipula Rado hidup juga nggak ada gunanya . . . “
“ Orang gila “ Lintang berteriak kesal membanting Handphone-nya ke lantai, membuat semua mata yang ada di ruangan itu tertuju padanya. Lintang terduduk, menangis sesenggukan. Ia benar-benar tak menyangka bahwa ini semua karena dia. Meskipun ia tak menyukai Rado, ia tak menginginkan cara seperti ini untuk mengakhiri semuanya, bagaimanapun juga Rado adalah sepupunya, orang yang sangat disayangi tante Lani dan Lintang tak pernah ingin menyakiti tante Lani.
Handphone Lintang berbunyi, kali ini menandakan sebuah pesan masuk. Ia meraih Handphone-nya yang sudah tergeletak di lantai.

+6285234541***
Kamu nggak perlu takut sayang
Kamu juga nggak perlu cerita ke siapapun atau ke polisi
Atau kamu ingin satu persatu orang yang kamu sayangi lebih cepat bertemu Tuhan?

Lintang mencoba menghubungi nomor tersebut, mailbox, Lintang membanting Handphonenya lagi. Tangisnya semakin pecah, pesan ini sama persis dengan pesan yang diterimanya setahun yang lalu.

***

Semenjak pamakaman Rado kemarin, Lintang belum bertemu dengan tante Lani. Lintang takut, ia merasa bersalah tiap kali melihat tante Lani, karena sebenarnya ialah penyebab kematian Rado.
Seharian ini Lintang hanya melamun, ia sudah seperti mayat hidup. Muty yang kebingungan, karena sahabatnya ini tak mau bercerita atau berbicara sepatah katapun padanya.
“ Lintang, sebenernya apa yang terjadi? “ Lintang hanya diam.
“ Lintang . . . “ Muty mengguncang tubuh Lintang, tapi tetap tak ada respon.
“ Lintang, makan ya sayang? Kamu pasti belum makan? “ Muty mencoba menyuapkan sesendok batagor kesukaan Lintang, tapi mulut Lintang tak sedikitpun terbuka.
“  Lintang, ini batagor kesukaan loe, pedes pula . . . “ Handphone Lintang berdering, menandakan sebuah pesan masuk. Karena Lintang hanya diam saja, Muty memutuskan untuk membaca pesan tersebut

+ 6281789000***
Lintang sayang, ayo makan
Aku nggak mau ngeliat kamu sakit
p.s kamu akan lebih cantik kalau tersenyum dan jangan memikirkan Rado lagi

“ Lintang, loe kenal sama nomor ini? “ Lintang meraih Handphone-nya, sms yang sama dan Lintang yakin dia adalah orang yang sama, hanya saja menggunakan nomor yang berbeda.
“ Tunggu . . . “ Lintang membaca kembali pesannya.
“ Dia ada disini?! “ Lintang berkata panik, ia beranjak dari duduknya. Melihat ke sekeliling, mencoba mencari sosok yang mencurigakan. Tapi ia tak menemukan siapapun. Lintang kembali terduduk, kepalanya berdenyut. Wajahnya nampak pucat.
“ Ada apa sich say? Sapa yang loe maksud? “ tapi Lintang tak menjawab, wajahnya semakin memancarkan raut ketakutan.
Tak beberapa lama kemudian, Handphone Muty berdering.

+ 6281789000***
Terimakasih sudah mau menjaga Lintangku

“ Tang, loe tau nomor ini? “ Muty berkata ragu, bukannya menjawab, Lintang semakin menangis.
“ Tang, kok loe nangis sich? Kita pulang aja ya? “
Handphone Muty kembali berdering, menandakan panggilan masuk.

Dimas
Calling . . .

“ Hallo, napa bang? “
Masih dikampus?
“ Ia “
Mau gue jemput ato gimana? Ni gue ada dideket kampus loe
“ Ia dech bang, kasihan ini Lintang “
Napa lagi dia?
“ Nanti aja ya ceritanya, gue tunggu ya bang, jangan lama-lama “ Muty memutuskan teleponnya.
Tak lama kemudian Dimas muncul.
“ Pulang sekarang yuk, udah mendung “ ajak Dimas.
“ Gue disini aja ” akhirnya Lintang mau bersuara.
“ Loe yakin? “ Muty bertanya cemas, dan Lintang hanya mengangguk, mata Lintang terus menatap Dimas curiga.
“ Ya udah dech, gue pulang dulu ya? Loe hati-hati “ Lintang tersenyum kecil, akhirnya ia benar-benar sendirian. Dan Lintang kembali menangis.

***

Lintang berjalan gontai ditengah hujan yang mengguyur deras, tubuhnya begitu lemas karena seharian ini ia “berpuasa”. Tiba-tiba saja Lintang merasakan dunianya berputar, kepalanya begitu pusing,  setelah itu semuanya nampak gelap.
Saat tersadar, Lintang sudah berada di suatu ruangan yang sangat asing baginnya. Terlihat mewah tapi juga terlihat tua dan menyeramkan.
Lintang mencoba untuk duduk, tapi kepalanya masih terasa berdenyut.
“ Sudah bangun Lintang “ Lintang mengerutkan keningnya ketika mengetahui siapa orang yang telah menolongnya.
“ Dokter Ramdhan? “ Lintang bertanya tak percaya, dokter Ramdhan duduk disebuah sofa didekat ranjang Lintang.
“ Tadi saya kebetulan lewat depan kampus kamu, eh ada anak perempuan pingsan di tengah jalan, nggak taunya kamu “ dokter Ramdhan mencoba menjelaskan, seolah tau apa yang sedang Lintang fikirkan.
“ Udah makan? “ Lintang menggeleng.
“ Kebetulan, tadi saya beli batagor, makan ya? “
“ Enggak usah dok, saya pulang aja “ Lintang menggeleng lemah, ia berusaha berdiri, namun masih terasa lemas, hingga akhirnya ia terjatuh lagi. Namun dokter Ramdhan berhasil memegangnya.
“ Kamu harus makan “ kata dokter Ramdhan tegas.
“ Meskipun saya dokter, dan saya mendapatkan uang dari orang-orang yang sakit, saya nggak mau ngeliat kamu sakit. Sebentar ya “ Tak beberapa lama kemudian, dokter Ramdhan kembali membawa sebuah nampan berisi sepiring batagor, segelas susu cokelat dan apa itu, bunga?
“ Dimakan, nanti saya antar kamu pulang “ Lintang memandangi nampan itu dengan ragu.
“ Ada apa Lintang? Ato mau saya suapin? “ Lintang tersenyum, menggeleng.
“ Oia, kamu mau diantar kemana nanti? Tempat kos kamu, rumah tante kamu atau rumahnya Muty? “ Lintang mengerutkan keningnya, darimana dokter Ramdhan tau tentang tante Lani?
“ Atau kamu mau nginep disini aja? “ dokter Ramdhan tersenyum.
“ Nggak dok, makasih, nanti saya di tempatnya Muty aja “

Mut, malam ini gue nginep rumah loe y??
Send to MutMut

Dan Lintang melihat sebuah bekas luka ditelapak tangan dokter Ramdhan.

***

“ Dokter Ramdhan? “ Mulut Muty menganga lebar ketika tau siapa yang mengantarkan Lintang ke rumahnya malam ini.
“ Papa kamu kemana? “
“ Masih di Semarang dok “
“ Kakak kamu? “
“ Ke luar kota “
“ Kebetulan kalau begitu . . . “
“ Dokter nggak mau masuk dulu? “
“ Ooo, nggak usah sudah malam. Saya pulang saja, kalau Lintang disini pasti saya tenang. Hati-hati ya Lintang “
“ Terimakasih dok “
“ Kok bisa loe dianterin dokter Ramdhan? “ pertanyaan itulah yang pertama kali muncul, setelah Muty menutup pintu.
“ Nggak usah mikir macem-macem, tadi dia yang nemuin gue waktu pingsan “
“ Kok bisa sich? Oia, tadi sebenarnya loe kenapa sich? “
“ Gue masih belum bisa cerita “
“ Ya udah klo gitu, malam ini loe tidur di kamar abang gue aja ya? “
“ Abang loe tidur dimana? “
“ Dia bilang nggak pulang malam ini “
“ Emangnya kamar loe napa? “
“ Udah tidur aja disana, bawel loe mah, byuebyue Lintang sayang, gue mau tidur dulu, nice dream ya “ Muty masuk ke dalam kamarnya, dan Lintang juga masuk ke kamar Dimas. Asing, perasaan itulah yang muncul ketika pertama kali Lintang memasuki kamar Dimas. Ia mengelilingi kamar itu, termasuk rapi untuk seukuran cowok seperti Dimas. Berbagai poster tertempel didinding kamarnya yang bercat dasar biru tua. Apa itu? Lintang melihat salah satu bagian dari dinding kamar Dimas tertutupi kain hitam, karena penasaran Lintang mencoba membukanya. Lintang benar-benar terkejut setelah kain hitam itu tersingkap, ada berbagai macam foto dirinya yang telah terpigura dengan rapi menjadi satu.” Apa Dimas pelakunya? “ batin Lintang dalam hati. Lintangpun kembali mencari bukti-bukti yang menguatkan dugaannya. Di meja Dimas, Lintang menemukan sebuah kamera, Lintang memberanikan diri untuk melihat foto-foto yang ada didalamya. Kebanyakan berisi foto-fotonya, dan ada pula fotonya hari ini, yang sedang menangis.
Apa yang didapatnya hari ini membuat matanya semakin tak mengantuk, Lintang benar-benar takut, apa Dimas pelaku semua ini? Mengapa dia melakukan semua ini?

***

“ Sorry ya Tang, loe pasti kaget waktu nemuin foto-foto loe dikamar abang gue, tapi gue juga baru tau kalo dia sebenernya sayang ma loe “ tiba-tiba saja Muty bercerita, pagi ini ketika sarapan.
“ Gue sengaja nyuruh loe tidur dikamar abang gue, gue mau loe liat sendiri gimana perasaan abang gue ke loe, meskipun kaiaknya anteng dia selalu merhatiin loe “
“ Non, non “ Bi Inah tergopoh-gopoh sambil membawa telepon, dan memberikannya ke Muty.
“ Apa?! Ia ia, Muty kesana sekarang “ Muty nampak cemas.
“ Tang, ayo kita ke rumah sakit, abang gue kecelakaan waktu di proyek “ Lintang dan Muty bergegas menuju ke rumah sakit. Handphone Lintang berdering.

+ 6281334456***
Lintangku, maaf aku belum bisa membantu Dimas untuk bertemu Tuhan
Tapi aku akan terus mencoba

“ Damn!!! “ Lintang memaki geram.
“ Ada apa Tang? “
“ Nggak papa kok “ ujar Lintang menutupi.
Dengan cepat Lintang mengetik balasan.

Brengsek loe!!!
Send to + 6281334456***

***

“ Bang loe nggak papa? “ tanya Muty panik begitu mereka sampai di rumah sakit.
“ Udah dech Mut, gue nggak papa, nggak usah berlebihan gitu dech loe “ luka di tubuh Dimas bisa dikatakan cukup serius. Tak sejengkal dari tubuhnya yang tak dihiasi oleh luka.
“ Kok bisa Mas, apa yang sebenernya terjadi? “ tanya Lintang penasaran, Dimas memandang ke arah Lintang.
“ Muty, bisa tinggalin gue berdua ma Lintang? “
“ I . . . iya “ meskipun bingung, Muty menuruti permintaan kakaknya.
“ Lintang, bisa ambilan handphone gue? “ pinta Dimas setelah Muty meninggalkan mereka berdua. Dengan patuh Lintang menuruti perintah Dimas.
“ Baca ini “ Dimas menyerahkan handphone-nya kepada Lintang kembali, dengan ragu Lintang membaca isi pesan yang dimaksud Dimas.

+ 6281334456***
Jauhi Lintangku
Aku tak suka jika kamu terus mengambil fotonya
Jika tidak, aku akan mempercepat pertemuanmu dengan Tuhan

“ Gue ngeliat dokter Ramdhan sebelum kecelakaan yang menimpa gue, gue juga ngeliat dia waktu tempo hari gue ke kampus loe jemput Muty “ Lintang terdiam, antara percaya dan tidak.
“ Sorry ya Mas “ hanya kata-kata itu yang dapat di ucapkan Lintang, dan Dimas tersenyum mengangguk.

***

“ Buka!!! “ Lintang menggedor pintu rumah dokter Ramdhan marah.
Brakk . . . Brakk . . . Brak . . .
“ Gue bilang buka!!! “ teriakan Lintang semakin keras.
“ Ada apa Lintang? “ tanya dokter Ramdhan bingung ketika membukakan pintu. Lintang mendorong dokter Ramdhan marah, hingga terjatuh.
“ Loe kan yang bunuh Tyo, loe kan yang bunuh Mas Rado?? Sekarang loe nyelakain kakak temen gue! Mau loe apa hah?!! “ Lintang berteriak, marah.
“ Maksud kamu apa? Saya nggak tau “ dokter Ramdhan mencoba berdiri, tapi Lintang kembali mendorongnya.
“ Diem loe, loe nggak berhak buat ngomong! Seharusnya loe bunuh gue aja!! Jangan mereka!! “ Lintang terduduk  menangis.
“ Lintang, saya benar-benar nggak tau apa maksud kamu “ dokter Ramdhan berdiri,  menghampiri Lintang. Lintang bangkit dari duduknya, mengeluarkan sebilah pisau yang telah ia siapkan.
“ Sekarang biar gue yang bales kematian mereka! “
“ Lintang, apa yang akan kamu lakukan? Kamu bisa dipenjara sayang “ ujar dokter Ramdhan panik
“ Gue nggak perduli, asal loe mati, apapun bakal gue lakuin!! “ Lintang menyabetkan pisau yang dibawanya, tapi dokter Ramdhan berhasil mengelak.
“ Lintang sayang, kita bisa membicarakan ini baik-baik “
“ Waktu loe ngebunuh mereka, apa loe ngasih kesempatan mereka buat ngomong!!! “ Lintang kembali mencoba melukai dokter Ramdhan, namun kali ini dokter Ramdhan berhasil menangkap mata pisau itu, hingga melukai tangannya. Lintang mencoba melepaskan pisaunya dari tangan dokter Ramdhan, terjadi perebutan diantara mereka. Hingga akhirnya pisau itu mengoyak perut Lintang, melukai dirinya sendiri.
“ Awww “ Lintang berteriak kesakitan. Ia terduduk lemas, darah bercucuran dari  luka di perutnya.
“ Lintang Lintang, kamu nggak papa sayang? “ dokter Ramdhan panik, ia mencoba menutup luka Lintang dengan tangannya, berharap agar darah tak mengucur keluar dari luka itu. Darah membasahi tubuh mereka berdua. Dengan tenaga yang tersisa Lintang mencoba menyabetkan pisaunya ke arah dokter Ramdhan, tapi dokter Ramdhan berhasil mengambil pisau yang ada digenggaman Lintang, sebelum sempat ia membuangnya, tiga tembakan mendarat di tubuhnya, hingga tubuhnya tersungkur diatas tubuh Lintang. Polisi datang.
“ Cepat selamatkan gadis ini “ itulah kata-kata terakhir yang didengar Lintang sebelum ia jatuh pingsan.

***

“ Dimana ini? “ tanya Lintang setelah sadar.
“ Di rumah sakit “ Dimas menjawab pertanyaan Lintang, ia duduk di kursi rodanya, di samping ranjang Lintang.
“ Dimas . . . “ Lintang tersenyum menyadari kehadiran Dimas.
“ Akhirnya loe sadar juga, semua cemas, gue juga “ Lintang hanya meringis menahan sakit, sepertinya bius yang diberikan telah habis.
“ Yang lain mana? “ Lintang mencoba untuk duduk.
“ Pergi “ mereka terdiam.
“ Gue yang telfon polisi “
“ Makasih “
“ Bukan dia “
“ Maksud loe? “ Lintang mengerutkan keningnya, bingung.
“ Bukan dokter Ramdhan, dia cuma orang yang kurang beruntung, datang ditempat, dan waktu yang salah. Yang terparah, ia suka dengan orang yang salah “ Lintang semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan Dimas, hingga akhirnya ia melihat kotak pink yang sama ada di pangkuan Dimas.
“ Kasihan dia “ Dimas tersenyum sinis, berdiri dari kursi rodanya dan meletakkan kotak yang ada di pangkuannya di samping ranjang Lintang.
“ Jadi loe? “ desis Lintang marah.
“ Ia, gue pelakunya, gue yang bunuh Tyo, cowok tolol yang nggak pantes dapetin loe, gue juga yang ngebunuh Rado, sepupu loe yang emang nggak pantes idup itu “
“ Loe gila “ Lintang mencoba meraih vas bunga disamping ranjangnya, melemparkannya ke arah Dimas, tapi berhasil di hindari.
“ Ini semua demi loe Lintang sayang “ Dimas mengelus kepala Lintang lembut.
“ Lepasin tangan loe!!! “ Lintang menampik tangan Dimas dari kepalanya.
“ Gue sayang ma loe, dari pertama gue ketemu loe . . . “
“ Luka loe? “ Lintang masih tak percaya, ia tak menghiraukan cerita Dimas.
“ Ini? Hal mudah buat gue sayang “ Dimas menunjukkan lukanya dan tersenyum bangga.
“ Psikopat “
“ Ssstttt, gue bukan psikopat, tapi gue terlalu cinta ma loe “ Dimas memegang bibir Lintang dengan tangannya.
“ Loe sinting “ Lintang baru sadar, tak mungkin dokter Ramdhan membunuh Tyo, Lintang baru bertemu dengannya setelah setahun kematian Tyo.
“ Loe tau, gue sengaja ngasih semua info tentang loe ke dokter bego itu, gue juga sengaja nunjukkin ke Muty foto-foto loe, loe udah liat kan sayang? “
“ Gue bakal laporin loe ke polisi “
“ Oia, ini buat loe, terakhir gue kasih buat loe “ Dimas memberikan kotak yang dibawanya. Lintang melemparnya ke dinding, dengan susah payah Dimas mengambilnya.
“ Ini, BUKA DAN BACA!!!! “ bentak Dimas dan kemudian ia tersenyum. Dengan takut, Lintang membuka kotak kecil pink itu.

Untuk Lintangku, Malaikat hatiku, Bidadariku di surga

Sayang, kini tiba waktunya kita bertemu Tuhan
Kita akan bahagia, berdua selamanya, tanpa ada yang mengganggu
Yang mencintaimu
Dimas

Lintang mengerutkan keningnya, mengalihkan pandangannya dari selembar kertas yang dibacanya ke arah Dimas, takut.
“ Gue udah janji kan ma loe, kita akan bersama-sama menghadap Tuhan, sekarang waktunya sayang. Hari ini 14 Februari, hari kasih sayang “ Dimas tersenyum senang.
“ Loe gila? ”
“ Gue nggak gila, klo kita mati, nggak akan ada yang bisa dapetin loe, dan kita akan hidup bahagia disurga “
“ Loe bakal masuk neraka tolol, dan klo gue mati, gue lebih milih idup sama Tyo di surga “ Lintang tersenyum penuh kemenangan.
“ Tyo? tadi Malaikat SMS gue dan bilang klo Tyo udah positif masuk neraka “
“ SINTING LOE!!!! “ maki Lintang marah.
“ TOLONG!!!! “ Lintang berteriak ketika melihat Dimas mengeluarkan jarum suntik yang dari tadi ia sembunyikan dibalik bajunya. Lintang berusaha bangun, tapi sayangnya ia tak sanggup, luka bekas operasi di perutnya nampaknya tak mau diajak kompromi.
“ Aww . . . “ erangnya kesakitan. Luka di perutnya terasa berdenyut.
“ Loe nggak bener-bener mau bunuh gue kan? “ tanya Lintang ketakutan.
“ Sstt tenang sayang, ini nggak akan sakit “ Lintang mencoba melawan, tapi sayangnya tenaganya kalah kuat jika dibandingkan dengan tenaga Dimas.
“ TOLONG!!! TOLONG!!!! “
“ Terlambat sayang “ dan Dimas benar, semuanya telah terlambat. Dimas telah berhasil menyuntikkan racun itu ke dalam tubuh Lintang. Lintang mulai merasakan tubuhnya melemas, tubuhnya seperti terbakar. Tulangnya terasa remuk.
“ Sabar sayang, ini nggak akan lama “ Dimas berbisik lembut ditelinga Lintang, dan mengecup kening Lintang untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya ia menenggak racun yang telah ia siapkan. Dan beberapa menit kemudian dunia mereka menjadi gelap . . . .